Menafsir Tenun

Desainer Stephanus Hamy memang tak lagi bisa berbicara dengan lancar sejak terkena serangan stroke. Tapi, itu tidak menghentikan Hamy, begitu dia biasa dipanggil untuk membuat pakaian. Tadi malam, bersama Cita Tenun Indonesia, Hamy kembali menunjukkan desain karyanya pada khalayak di Jakarta Fashion and Food Festival 2015.

Serangan stroke tidak membuat Mas Hamy berhenti membikin pakaian. Kita tetap bis amelihat siluet 80-an yang khas pada karya-karyanya. (Credit: Iqbal/Tempo.co)

Serangan stroke tidak membuat Mas Hamy berhenti membikin pakaian. Kita tetap bis amelihat siluet 80-an yang khas pada karya-karyanya. (Credit: Iqbal/Tempo.co)

“Saya sudah beberapa kali menggarap tenun Bali,” kata Hamy di Hotel Harris Kelapa Gading, Selasa, 26 Mei 2015. Tentu dia berbicara dengan terbata-bata dan dibantu dengan beberapa anggota CTI lainnya. Serangan stroke tidak membuat Hamy berhenti membikin pakaian. Berdasarkan pengamatan Tempo, sejak Oktober tahun lalu, Hamy tetap aktif meluncurkan koleksi pakaian. Bahkan, keseluruhannya merupakan koleksi baru.

Hamy menjadi satu dari enam desainer yang dipilih oleh Cita Tenun Indonesia sebagai mitra mereka. “Kami memang terbiasa bekerjasama dengan para desainer untuk membawa tenun,” kata Ketua CTI Okke Rajasa. Selain Hamy, tampil pula Auguste Soesastro, Chossy Latu, Denny Wirawan, Ari Seputra, dan Priyo Oktaviano.

Masing-masing diminta untuk menerjemahkan satu macam tenun. “Ada yang dari Bali, Sambas, Sulawesi Tenggara, Baduy, Lombok dan Halaban di Sumatera Barat,” kata Okke. Tema yang diusung dalam peragaan bertajuk Jalinan Lungsi Pakan—yang sudah digelar keempat kalinya oleh CTI—itu juga sangat beragam.

Ari Seputra mengolah tenun Lombok menjadi pakaian siap pakai yang sepintas tidak terlihat seperti tenun. Kata Ari, butuh waktu untuk membujuk perajin membuat tenun mereka menjadi hitam-putih saja.

Ari Seputra mengolah tenun Lombok menjadi pakaian siap pakai yang sepintas tidak terlihat seperti tenun. Kata Ari, butuh waktu untuk membujuk perajin membuat tenun mereka menjadi hitam-putih saja.

Ari Seputra misalkan, memilih untuk mengusung tema Monochromethnic. “Saya beruntung karena akhirnya kali ini pengrajin tenun di Lombok bisa membuat tenun dengan warna hitam putih. Ini sesuai dengan keinginan saya yang selalu ingin membuat busana ready to wear,” kata Ari, yang kinii tengah sibuk mengurusi label pakaian siap pakai Major Minor.

Jika Ari sibuk dengan pret-a-porter—merujuk pada istilah Prancis untuk baju siap pakai—desainer Chossy Latu justru tampil dengan koleksinya yang terinspirasi dari film Sex and The City, namun diplesetkan menjadi Songket and The City. Dengan musik pembuka film bertokoh utama Carrie Bradshaw itu, Chossy mendandani para model dengan ciri glamor ala 1990-an. Ada perhiasan mutiara, korsace bunga besar—yang entah kenapa selalu ada hampir di seluruh koleksi Chossy—hingga topi tinggi bertabur bunga dan bulu burung. Tentu, agak bingung melihatnya karena sangat ramai dengan tambahan jaket dari songket Halaban.

Denny Wirawan terinspirasi dari keindahan bawah laut Wakatobi untuk membuat koleksi pakaian bertajuk Ocean Mood. Dia meminta para perajin—yang merupakan binaan bersama CTI dan Hivos—untuk membuat motif khusus. Itu sebabnya ada bintang laut dan biota lut lainnya yang dimunculkan dalam songket berwarna kuning. Songket itu, diubah menjadi jaket panjang oleh Denny.

Auguste diminta untuk membuat busana dari tenun Sambas oleh Cita Tenun Indonesia.

Auguste diminta untuk membuat busana dari tenun Sambas oleh Cita Tenun Indonesia.

Sedangkan Auguste Soesastro lewat label Kraton miliknya, justru menampilkan set pakaian yang berbeda dari peragaan mini yang juga digelar oleh CTI dan Pemerintah Kabupaten Sambas di Restoran Kembang Goela tiga pekanlalu. Auguste, membikin set pakaian dengan siluet minimalis dan jahitan yang rapi. Dia meminta khusus warna-warna dari para perajin seperti warna hijau emerald dan juga biru permata. “Tapi sebenarnya saya gak pernah ikut pelatihan dengan perajin di Sambas, saya kebetulan hanya diminta untuk membuat pakaian saja,” ujar Auguste kalem.

Ini menjadi peragaan busana serius pertama Priyo Oktaviano usai tudingan menjiplak karya Prabal Gurung akhir tahun lalu. Masih ada siluet koleksi Gallore di koleksi barunya. (Credit: Iqbal/ Tempo.co)

Ini menjadi peragaan busana serius pertama Priyo Oktaviano usai tudingan menjiplak karya Prabal Gurung akhir tahun lalu. Masih ada siluet koleksi Gallore di koleksi barunya. (Credit: Iqbal/ Tempo.co)

Yang menarik malam itu adalah kemunculan desainer Priyo Oktaviano. Setelah lama menghilang usai disebut menjiplak karya desainer Amerika Serikat Prabal Gurung, Priyo muncul dan menafsirkan tenun Baduy dalam tema bertajuk Gamematic of Baduy. “Saya banyak bermain dengan motif geometri dalam aplikasi tenun daerah ini,” kata Priyo. Bagaimana hasilnya? Desain Priyo lewat label Spous terlihat seperti pengulangan dari koleksi Gallore pada tahun 2013 lalu. Jika saat itu Priyo mengeksplorasi tapis Lampung, kali ini motif garis-garis tenun Baduy yang diubahnya menjadi susunan geometri.

Artikel aslinya bisa anda baca disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s