Hian Tjen Si Maksimalis

HianTjen4

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo Minggu, 23 Agustus 2015

Kepala sapi dan laba-laba raksasa menjadi ‘hidangan’ di atas meja panjang di Dian Ballroom, Hotel Raffles Jakarta. Roti yang ditinggalkan di atas meja dalam kastil penuh belukar itu menjadi tanda bahwa jamuan tak sempat selesai. Terdengar seperti film horor? Tenang saja, ini hanya bagian dari dekorasi peragaan busana desainer muda Hian Tjen. Untuk pertama kalinya, desainer lulusan ESMOD Jakarta itu menggelar peragaan busana tunggal pada Rabu, 19 Agustus 2015 lalu.

Dekorasi yang megah, serta gaun-gaun besar yang diukur dengan terperinci, memang menjadi salah satu ciri khas Hian Tjen. “Saya memang orang yang total. Gak mau setengah-setengah,” kata Hian kepada Tempo, sepekan sebelum peragaan digelar di butiknya di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Peragaan bertajuk Chateau Fleur, yang berarti Kastil Bunga dalam bahasa Prancis ini memang menjadi semacam pembuktian bahwa dia adalah salah satu desainer muda yang perlu diperhitungkan.

Pengakuan bahwa pria berusia 30 tahun in merupakan desainer berbakat sebenarnya sudah datang terlebih dahulu dari Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) yang mengajaknya bergabung dua bulan silam. IPMI merupakan wadah perancang mode yang beranggotakan nama-nama besar seperti Biyan, Didi Budiardjo, hingga Sebastian Gunawan. Desainer Tri Handoko, yang juga salah satu pengurus IPMI, langsung menelepon Hian untuk mengajaknya bergabung. “Gak lama dari telepon itu aku disuruh ikut sesi foto dengan member IPMI yang lain dan setelah itu dipublish di Instagram mereka,” kata Hian.

Kualitas Hian Tjen setara couture, tapi sulit untuk menyebutkannya dengan istilah yang sebenarnya dilindungi secara legal itu.

Kualitas Hian Tjen setara couture, tapi sulit untuk menyebutkannya dengan istilah yang sebenarnya dilindungi secara legal itu.

Sejak itu, Hian resmi menjadi anggota paling anyar dari IPMI. “Aku belum tahu apakah nanti ada inisiasinya atau enggak,” ujar dia. Hingga kini, Hian masih menjadi satu-satunya anggota baru IPMI pada 2015. Terpilih sebagai anggota IPMI, Hian bakal diminta untuk tampil minimal tiga kali setahun, sesuai persyaratan keanggotaan.

Peragaan Chateau Fleur sebenarnya hendak diadakan pada bulan Juni lalu. “Tapi, tanggal yang kupilih ternyata bertepatan dengan peragaan busana Mas Biyan,” kata Hian. Tak mau ambil resiko, dia pun memilih untuk menunda peragaannya hingga Agustus.

Jumlah busana yang hendak dirancang Hian pun sempat fluktuatif. Awalnya, dia hendak merancang 60 tampilan sebelum kemudian memotongnya menjadi 50. Tampilan yang dirancangnya kemudian naik lagi menjadi 57. “Ada masa dimana aku sedikit stuck dalam merancang. Tapi ternyata kemudian aku bisa bikin lebih banyak dari yang aku kira,” ujar dia.

Chateau Fleur, kata Hian, bercerita soal dongeng di dunia tanpa manusia dengan latar kastil yang telah diambil alih oleh alam. Tema itu pun diterjemahkan secara harfiah lewat dekorasi berbentuk kastil dan meja hidangan panjang yang ditumbuhi semak belukar serta laba-laba raksasa tadi. “Ini sebenarnya dongeng klasik yang bercerita soal sisi baik dan buruk,” kata dia.

Dua sisi dalam dongeng itu tentu resep lama yang seringkali digunakan sebagai tema peragaan busana. Apalagi Hian membikin pembagian karakter itu lewat dua macam tata rias serta membagi peragaannya menjadi dua sesi. Bagian pertama, Evil Stalked The Night dimulai oleh peragawati Drina Ciputra dengan gaun merah berkerah tinggi dari bordir yang menutupi dagu.

Koleksi gaun merahnya cocok untuk wanita-wanita yang berani, seksi, dan tidak takut menampakkan sisi jahat di dalam dirinya. Pada sesi ini, Hian mengeksplorasi teknik lipit pisau hingga bordir dan laser cut yang rinci. Sedangkan koleksi gaun hitamnya, mengingatkan kita pada karakter Maleficent pada dongeng Putri Tidur. Dia misterius, liar, dan penuh kekuatan. Permainan material bulu menjadi salah satu poin utama yang menguatkan kesan itu.

Pada bagian kedua yang diberi judul Love Will Bring The Joy, desainer yang memulai kariernya pada 2008 ini mengeksplorasi warna pastel, mulai dari abu-abu, biru muda, hingga emas dan putih. Tampilannya mengingatkan kita pada karakter-karakter peri dan putri dari berbagai dongeng. Sebut saja Thumbelina hingga Belle dari kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa. Mereka tampak rapuh dengan permainan bordir dan aplikasi laser cut yang disusun berlapis-lapis. Ada juga permainan aplikasi bulu unggas yang disusun membentuk sayap.

Puncak peragaan muncul bak dua sisi karakter Odette dan Odil dalam dongeng Danau Angsa. Si Angsa Putih muncul harfiah bak gabungan Ratu Angsa dan Ratu Es dari film The Chronicles of Narnia, sedangkan Si Angsa Hitam muncul dari perpaduan karakter Maleficent dan Ratu Malam dari lakon opera Die Zauberflote alias Suling Ajaib. Tentu, itu semua sesuai dengan inspirasi dongeng yang digalinya sejak dua tahun lalu.

Semua dongeng itu tentu cocok untuk klien Hian. Mereka merupakan bagian dari 0,01 persen penduduk Indonesia yang merancang hidupnya bak dongeng dan mampu membeli gaun-gaun indah. Chateau Fleur menjadi debut pembuktian yang menjanjikan bagi Hian meskipun sebagian besar siluet gaun itu tak baru-baru amat.

Hian Tjen on Chateau Fleur's Finale. Photo courtesy of Tempo.co

Hian Tjen on Chateau Fleur’s Finale. Photo courtesy of Tempo.co

Penggunaan label haute couture pada judul peragaan busana pun sebenarnya bisa dibilang pilihan yang agak berbahaya mengingat istilah couture dilindungi secara hukum di Prancis. Indonesia sendiri hingga kini tak punya badan khusus yang mengatur lisensi soal couture. Sebenarnya, ketimbang menggunakan istilah couture, lebih baik Hian menggunakan istilah adibusana untuk menghindari kemungkinan konsekuensi hukum yang bisa saja timbul. Di luar perkara itu, Hian harus bangga karena dia berhasil membuktikan dirinya sebagai desainer maksimalis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s