Panggung Kesatria Dua Generasi

Peragawati Laura Muljadi kebagian tugas besar: menutup Jakarta Fashion Week 2016. Dengan sayap rotan bertumpuk dua, helm mirip kepunyaan personel grup musik Daft Punk, dan tiara dari kayu tipis berulir, “beban” Laura memang berat.

OCTOBER 30: A model walks the runway of Dewi Fashion Knights supported by MAGNUM featuring Spring Summer 2016 collection by Rinaldy A.Yanuardi during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta. (Getty/FeminaGroup/JFW2016)

OCTOBER 30: A model walks the runway of Dewi Fashion Knights supported by MAGNUM featuring Spring Summer 2016 collection by Rinaldy A.Yunardi during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta. (Getty/FeminaGroup/JFW2016)

Kostum seberat puluhan kilogram yang membikin Laura seperti makhluk persilangan alien dan superhero Ultraman itu merupakan karya perancang aksesori Rinaldy A. Yunardi. “Terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan kepada saya,” tulis Laura dalam kolom komentar di akun Instagram majalah Dewi yang memuat videonya saat berjalan di runway. Rinaldy merupakan satu dari lima desainer pilihan Dewi dalam acara tahunan Dewi Fashion Knights yang digelar pada Jumat, 30 Oktober lalu.

Dewi Fashion Knights merupakan acara pemilihan desainer Indonesia paling akbar versi majalah besutan Femina Group itu. Perhelatan ini biasanya digelar sebagai penutup Jakarta Fashion Week setiap tahun. Selain menunjuk Rinaldy, yang menjadi pamungkas, Dewi memilih Peggy Hartanto, Lulu Lutfi Labibi, Felicia Budi, serta desainer Australia kelahiran Indonesia, Haryono Setiadi.

Rinaldy adalah yang paling senior di antara lima desainer itu. Dikenal luas dengan gaya desain aksesorinya yang glamor, malam itu, mengusung tema “Lady Warrior”, Rinaldy membuktikan bahwa dia tak hanya jagoan dalam urusan perhiasan.

OCTOBER 30: A model walks the runway of Dewi Fashion Knights supported by MAGNUM featuring Spring Summer 2016 collection by Rinaldy A.Yunardi during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.

OCTOBER 30: A model walks the runway of Dewi Fashion Knights supported by MAGNUM featuring Spring Summer 2016 collection by Rinaldy A.Yunardi during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.

Desainer asal Medan yang mengaku belajar merancang secara otodidak itu memajankan kepiawaiannya menerjemahkan tema “‘Eyes to The Future” dari Dewi. Di balik kostum bertema futuristik yang dirancangnya dari rotan, kayu, hingga kertas daur ulang, dia ingin menunjukkan bahwa ada proses desain dan kerja tangan yang dilakukan selama ribuan jam.

OCTOBER 30: A model walks the runway of Dewi Fashion Knights supported by MAGNUM featuring Spring Summer 2016 collection by Rinaldy A.Yunardi during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta. (Getty Images/JFW2016)

OCTOBER 30: A model walks the runway of Dewi Fashion Knights supported by MAGNUM featuring Spring Summer 2016 collection by Rinaldy A.Yunardi during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta. (Getty Images/JFW2016)

Desainer pakaian Felicia Budi, yang dikenal lewat eksplorasi materialnya melalui label Fbudi, juga berhasil mencuri perhatian. Membuka peragaan dengan koleksi berwarna putih gading dan detail rumbai, Felicia menunjukkan kecakapannya dalam mengolah material.

My personal fave from FBudi's collection on DFK 2016. (GettyImages/JFW2016/FeminaGroup)

My personal fave from FBudi’s collection on DFK 2016. (GettyImages/JFW2016/FeminaGroup)

Berbahan seratus persen katun organik, ataupun organza, seluruh koleksi yang diperagakan malam itu dibuat dengan metode tenun Sikka, Nusa Tenggara Timur. “Secara fisik mungkin banyak yang mengira itu bukan tenun. Tapi kami tetap menyebutnya sebagai tenun,” ujar Feli—panggilan Felicia—kepada Tempo.

Tema yang diusung Feli dalam koleksinya kali ini terinspirasi sajak Kahlil Gibran bertajuk “Freedom”. Sajak tentang pembebasan dan kemerdekaan itu diterjemahkan lewat detail pada tekstil yang terkesan kasar, sedikit asimetris, dan terlihat liar. Mengusung tema “Tanah Air”, Feli juga punya misi yang hendak dipenuhi lewat koleksi itu. “Sebagian hasil dari penjualan koleksi ini bakal disumbangkan untuk kepentingan pembangunan sekolah penenun di NTT,” kata dia.

Sementara Feli terinspirasi sajak, Peggy Hartanto membikin koleksi dari bentuk-bentuk biota laut. “Awalnya, aku sempat jalan-jalan ke Grand City di Surabaya, lalu lihat ikan-ikan di akuarium,” ujar Peggy. Bentuk sirip, tekstur, ataupun motif ikan itu menjadi salah satu ide dasar Peggy dalam membuat koleksi.

Some 'unfinished' dress from Peggy Hartanto. (GettyImages/JFW2016/FEminaGroup)

Some ‘unfinished’ dress from Peggy Hartanto. (GettyImages/JFW2016/FeminaGroup)

Bentuk itu diolah menjadi pola khusus dalam pakaiannya yang diterjemahkan dalam aksen pada pinggang atau dada. Dalam Dewi Fashion Knights, Peggy berani tampil dengan potongan unfinished, yang membuatnya keluar dari zona nyaman desain potongan rapi serta bersih.

Another deconstructive structured on Peggy Hartanto. (Getty/FeminaGroup/JFW2016)

Another deconstructive structure on Peggy Hartanto. (Getty/FeminaGroup/JFW2016)

Desainer asal Yogyakarta, Lulu Lutfi Labibi, tampil dengan tema “Jantung Hati”. Dengan diiringi lagu dari Frau bertajuk Sepasang Kekasih Pertama yang Bercinta di Angkasa, Lulu tampil dengan tumpukan motif yang tabrak lari dalam setelan blus dan bawahan yang sepertinya terlampau cocok sebagai satu kesatuan.

Motif bunga mirip corak kebaya kembang Paris pada bahan berwarna cokelat dikawinkan dengan bahan lurik. Kali ini, Lulu tidak terlalu banyak bermain draperi asimetris yang telah menjadi cirinya. Dia juga banyak merancang gaun, atau blus dengan sedikit aksen asimetris. Menurut Lulu, koleksinya bercerita tentang orang yang sedang jatuh cinta. “Saat seseorang jatuh cinta, belum tentu mood-nya itu berteriak,” kata dia. Sebaliknya, mood jatuh cinta ala Lulu lebih tenang, yang ditunjukkan lewat pilihan lagu serta tabrakan motif yang lebih kalem.

Finale from Lulu Lutfi Labibi. Lagu tema Sepasang Kasih yang Pertama Kali Bercinta di Angkasa, sukses menarik perhatian banyak orang.

Finale from Lulu Lutfi Labibi. Lagu tema Sepasang Kasih yang Pertama Kali Bercinta di Angkasa, sukses menarik perhatian banyak orang. (Getty/Femina/JFW2016)

Sedangkan Haryono Setiadi ingin membuktikan bahwa dia tetap menyusuri akarnya di Indonesia meskipun sudah menjadi warga Australia. Untuk koleksi bertajuk “Serene”, Haryono mengeksplorasi kain tenganan dengan metode ikat ganda asal Bali. Dia tidak asal memotong kain itu dan mengaplikasikannya pada pakaian. Sebaliknya, tenun ganda menjadi bagian tak terpisahkan dari koleksi ini.

Lihat bagaimana Haryono mengeksplorasi material asal Tenganan dalam koleksinya. Sama sekali tak terlihat etnik, meskipun menggunakan metode etnik pada aplikasi pakaiannya. (Getty/JFW2016/Femina)

Lihat bagaimana Haryono mengeksplorasi material asal Tenganan dalam koleksinya. Sama sekali tak terlihat etnik, meskipun menggunakan metode etnik pada aplikasi pakaiannya. (Getty/JFW2016/Femina)

Tenun tenganan tadi diaplikasikan sebagai aksen pada bagian bahu atau bahkan sebagai rok pendek. “Butuh waktu satu setengah tahun bagi saya untuk melakukan riset soal ini,” ujar dia. Bagi Haryono, menafsirkan kebudayaan Indonesia tidak harus melulu dengan membikin pakaian bergaya etnik. Malam itu, dia berhasil menunjukkan kepiawaiannya sebagai finalis International Woolmark Prize, meskipun belum bisa maksimal memenuhi ekspektasi sebagian besar penonton.

Sebagian besar tepuk tangan riuh malam itu diberikan kepada Rinaldy A. Yunardi, yang menunjukkan tingginya jam terbangnya sebagai senior. Dia tahu panggung dan sanggup memahami keinginan sederet selebriti, sosialita, dan pencinta mode malam itu. Rinaldypunya faktor wow paling besar dalam desainnya, faktor yang belum tentu dipunyai desainer lain.

SUBKHAN J. HAKIM

Artikel ini diterbitkan di Koran Tempo, 7 November 2015, dengan beberapa informasi tambahan.

Catatan tambahan and fun facts:

-Tenun ganda Tenganan yang digunakan oleh Haryono merupakan salah satu metode paling langka yang masih digunakan hingga kini di Bali. Itu sebabnya butuh waktu 1,5 tahun bagi Haryono untuk melakukan riset terhadap tekstil tersebut.

-Lulu Lutfi Labibi baru tiba untuk persiapan show nya di Jakarta, jelang tanggal 30 Oktober. Dia memilih untuk fokus pada koleksinya. Bagi Lulu, DFK merupakan sesuatu yang besar. Sepekan sebelum peragaan, dia bahkan sengaja membolos dari beberapa konferensi pers peragaan busana nya di Jakarta.

-Peggy Hartanto sebenarnya sudah terinspirasi oleh beragam bentuk biota laut sejak kuliah di Australia. Dia sempat meriset bentuk dan motif makhluk laut itu saat masih berkuliah dulu. Tapi, kunjungannya ke akuarium mall Grand City Surabaya yang menjadi pemantik dia membikin koleksi bertajuk Fin ini.

-Felicia Budi memang menghindari membikin warna ngejreng pada koleksinya yag bertajuk Tanah Air. Sebaliknya, dia justru menghindari warna-warna terang pada karakter asli wastranya. Itu sebabnya Feli menyebutnya sebagai tenun yang bukan tenun.

My personal review on DFK 2016:

Menarik untuk dilihat. Tapi sebenarnya ini lebih mirip pertempuran 4 lawan 1. Felicia, Peggy, Lulu dan Haryono merupakan nama-nama baru yang harus kita tunggu perkembangannya lima hingga 10 tahun mendatang. Kita masih harus menunggu terobosan-terobosan baru dari mereka serta eksplorasi lebih jauh dari apa yang mereka rumuskan saat ini. Tentu, kita tidak ingin masing-masing dari mereka mengembangkan desain yang membosankan setiap tahunnya. Kami pasti bakal menunggu ide baru atau bahkan konsep baru dalam desain pakaian–yang semoga–penuh kejutan ketimbang mudah ditebak.

Jika panggung DFK adalah pertempuran tinju, pemenangnya mungkin adalah Rinaldy A Yunardi. Jam terbangnya berbicara lewat rancangan yang dia suguhkan malam itu. Terlepas dari perdebatan desain siapa yang jadi referensi Rinaldy–yang kadang seringkali dipermasalahkan–dia masih menjadi desainer aksesori yang sulit digantikan. Peragaannya malam itu, seakan berteriak: “Yeah. It’s me.” Dan ya, dia masih menjadi satu-satunya.

This is madness. Fashion madness. (Getty/JFW2016/Femina)

This is a madness. A high-fashion madness. (Getty/JFW2016/Femina)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s