Hijab Visioner

Tulisan ini diterbitkan di Koran Tempo, edisi Sabtu, 21 November 2015

Peragawati Paula Verhoeven tetap mampu berjalan cepat mengikuti dentuman musik, meskipun mengenakan gaun besar bermotif kotak-kotak hijau karya desainer Norma Moi dari label Norma Hauri. Gaun besar yang menyapu lantai itu menjadi pembuka peragaan busana desainer busana hijab ini di panggung Jakarta Fashion Week 2016.

Gaun-gaun besar tanpa gemerlap kristal ataupun sequin menjadi andalan Norma pada koleksinya kali ini. “Kami terinspirasi oleh rumah mode dunia yang memiliki identitas yang tidak lekang oleh waktu,” kata Norma kepada Tempo dua pekan lalu. Norma berbicara soal Christobal Balenciaga, Christian Dior, hingga Yves Saint Laurent, yang menjadi inspirasi koleksi bertajuk “Visionary” ini.

Koleksi Busana Muslim di Jakarta Fashion Week

Rumah mode lama, semacam Balenciaga hingga Dior menjadi inspirasi utama Norma Hauri. Foto: TEMPO/Nurdiansah/20151025.

Itu sebabnya, permainan siluet dan struktur menjadi kunci utama. Tanpa banyak ornamen, tampilan yang dimunculkan memang mengejutkan mereka yang menonton. Pun referensinya sebenarnya sangat tidak terduga bagi banyak kalangan. Pasalnya, siapa yang mengira bahwa rancangan Balenciaga bisa menginspirasi rancangan modestwear? Ini merupakan istilah untuk menyebut busana hijab ketimbang busana muslim.

Koleksi Busana Muslim di Jakarta Fashion Week

A lot of  hijabers gushing about this sculptural-shape hijab. They said it could be the next trend on hijab. Foto: TEMPO/Nurdiansah/20151025.

Kejutan lain juga muncul dari hijab yang dibuat melayang bak struktur patung. Norma membikin hijab itu seakan-akan tertiup angin. “Padahal memang ada struktur kawat di dalamnya,” kata Norma. Lewat pemilihan tema ini, Norma ingin menunjukkan karya desainer masa lalu yang visioner itu sebenarnya tetap bisa diperbarui, termasuk mengaplikasikan siluet itu pada busana hijab.

Langkah ini juga menegaskan segmen pasar Norma Hauri yang berbeda dengan desainer busana hijab lainnya di Indonesia. Sementara sebagian besar desainer mengejar pasar menengah-bawah, serta memproduksi desain yang mudah dan murah, label Norma Hauri serius menyasar pasar menengah-atas. Dewi Sandra, Okky Asokawati, dan Inneke Koesherawati adalah sejumlah nama yang kerap mengenakan rancangannya.

Koleksi Busana Muslim di Jakarta Fashion Week

Gaun penutup koleksi Visionary karya Norma Hauri. Detail pada pakaian ini dilukis dengan tangan. Foto: TEMPO/Nurdiansah/20151025.

Yang jelas, meniru struktur gaun yang dibikin Norma bukanlah pekerjaan mudah bagi toko daring tukang jiplak desain. Kelebihan lainnya, rancangan Norma bisa dikenakan oleh mereka yang tidak berhijab, dan tetap terlihat menarik, serta sopan.

Sementara Norma terinspirasi oleh gaya rumah mode lama, desainer Restu Anggraini lewat label ETU justru mengambil inspirasi dari teori bilangan Fibonacci yang dituangkan menjadi proporsi emas. The Rationalist, begitu Restu menamai koleksinya. “Intinya lebih kepada keseimbangan pada struktur yang dibuat,” kata Restu.

Koleksi Busana Muslim di Jakarta Fashion Week

It is about Fibonanci number. Foto: TEMPO/Nurdiansah/20151025.

Struktur yang seimbang itu tidak melulu dengan menjadikannya simetri. Pada beberapa blus, kemeja, ataupun blazer yang dibikinnya, Restu justru membikin susunan yang tidak persis simetri. Menurut dia, proporsi pakaian The Rationalist itu dibikin mengimbangi setiap bagian. Jika ada struktur di sebelah kanan pada blusnya, bakal ada struktur lain yang mengimbangi itu pada bagian kiri. “Tapi tidak mesti simetris.”

Lewat ETU, Restu tetap konsisten untuk menyasar segmen pekerja yang mengenakan hijab. Meskipun begitu, rancangannya bisa juga dikenakan oleh mereka yang tidak berhijab atau bahkan bisa juga dikenakan oleh para pria. Tahun depan juga bakal menjadi langkah besar bagi ETU yang akan diundang untuk tampil dalam Virgin Melbourne Fashion Festival. Ini menjadi debut internasional kedua ETU setelah debutnya di Tokyo Fashion Week tahun ini.

Koleksi Busana Muslim di Jakarta Fashion Week

I guess it is a workwear that applicable for everyone. Foto: TEMPO/Nurdiansah/20151025.

Hanya, dengan publikasi yang sedemikian masif, penghargaan sebesar Aus$ 10 ribu sebagai Desainer Muda Terbaik dari ANZ Australia Indonesia Young Designer Award, dan debut internasional, ETU perlu mempersiapkan kapasitas produksi yang lebih besar. Ini menjadi kendala yang diakuinya secara jujur, dan perlu segera dibenahi.

Sementara itu, Dian Pelangi, yang tahun ini bikin perhatian dengan masuk daftar 500 orang paling berpengaruh dalam peta mode global versi Business of Fashion, berkolaborasi dengan dua lulusan London College of Fashion. Bertajuk CoIdentity, Odette Steele dari Zambia dan Nelly Rose dari Inggris bereksperimen dengan teknik tekstil tradisional Indonesia: dari batik, tenun, hingga bordir.

Koleksi Busana Muslim di Jakarta Fashion Week

It is simple, but also stylish. Foto: TEMPO/Nurdiansah/20151025.

Trio ini berupaya menerjemahkan pelangi dalam rancangan mereka dengan warna-warna terang. Teknik jumputan serta lukisan yang ditampilkan mengingatkan kita pada tampilan kain pantai yang banyak dijual di tempat wisata pesisir. Beberapa batik dengan tulisan nama Dian Pelangi ataupun motif monokromatik lainnya tampil cukup menonjol.

Sayangnya, penataan gaya busana yang menarik itu tidak dikerjakan maksimal. Tabrak lari motif yang tidak mulus membuat banyak tampilan busana gagal memancing perhatian. Secara ansambel, penataan gaya yang dilakukan tidak berhasil meningkatkan faktor “hanger appealing” yang penting di runway.

Jakarta Fashion Week 2016

Koleksi yang benar-benar pelangi dari Dian Pelangi, Nelly Rose dan Odette Steele. Foto: JFW2016/FeminaGroup/Getty

Warna-warna yang ngejreng ditambah aksesori besar dan taburan batu justru terlihat bertumpuk bak onggokan kain pantai. Sebagai desainer yang berpengaruh, dengan 3 juta pengikut di Instagram, Dian perlu membenahi permasalahan styling “tabrak lari” menjadi sedikit lebih tenang, dewasa, dan tidak mencolok.

Jakarta Fashion Week 2016

Foto: FeminaGroup/JFW2016/Getty

Apalagi permasalahan syariah juga menjadi pertimbangan, dan tak jarang menjadi perdebatan di kalangan desainer hijab. Memproduksi desain yang menarik tapi tetap memenuhi kriteria modestwear merupakan tantangan lain bagi para desainer busana hijab di tengah pasar yang tumbuh pesat.

Jakarta Fashion Week 2016

Salah satu tampilan yang menarik dari Dian Pelangi. Foto: JFW2016/FeminaGroup/Getty

 

Let me add another notes:

-Norma Hauri punya segmen khusus yang berbeda dengan desainer modestwear lainnya. Tidak semua wanita cocok dengan DNA label ini.

-ETU bisa dibilang cukup sukses dalam waktu satu tahun sejak debutnya pada JFW tahun lalu. Sangat menarik untuk melihat perjalanan label ini berikutnya. Semoga kapasitas produksinya bisa ditingkatkan. Tanpa itu, semua promosi yang sudah terjadi akan mubazir.

-Dian Pelangi mungkin bisa dibilang berpengaruh secara global lewat jumlah pengikut yang fantastis. Tapi, ada baiknya Dian lebih berani membenahi beragam hal, termasuk styling busananya dan desain yang semoga bisa lebih baik lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s