Cangkok Batik Balijava

Tulisan  ini dimuat di Koran Tempo Minggu edisi 6 September 2015.

“Sopo sing duwe karo aku? Sopo sing tresno karo aku?”

Finale 'Pasar Malam' by Denny Wirawan. Ini merupakan peragaan tunggal perdana Balijava. Foto : M Iqbal Ichsan untuk Tempo.

Teks dalam bahasa Jawa itu menggema menjadi lagu pengiring peragaan busana Pasar Malam karya perancang busana Denny Wirawan bekerjasama Djarum Bhakti Budaya. Artinya kurang lebih begini: “Siapa yang memiliki saya? Siapa yang sayang saya?” Musik karya Yovie Widianto itu menjadi salah satu elemen peragaan tunggal perdana label Balijava yang dibikinnya sejak 2008 lalu.

Denny dan juga Djarum Foundation selaku salah satu pendukung utama acara ini, memang ingin menyuguhkan peragaan yang akbar. Selain karena ini merupakan debut tuggal Balijava, peragaan ini dianggap sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kembali batik Kudus yang dibina oleh Djarum sejak lima tahun terakhir. “Kami baru punya 50 perajin batik Kudus. Jujur saja, sangat sulit sekali waktu memulai program ini lima tahun silam,” ujar Miranti Serad Ginanjar selaku Pembina Galeria Batik Kudus saat memberikan keterangan pers di Galeri Indonesia Kaya, Kamis, 3 September 2015.

Miranti mengingat betapa susahnya menggerakkan kembali batik Kudus dari nol. Sebabnya, kota di timur Semarang itu tergolong sejahtera. “Pendapatan per kapita dan upah minimumnya pun sudah tinggi. Sehingga sebagian tidak terlalu ingin terjun membatik,” kata Miranti. Peralihan pebatik menjadi petani dan perajin kretek sebenarnya sudah terjadi beberapa generasi. “Ini terjadi paling tidak sejak 1950-an,” ujar Direktur Program Djarum Bhakti Budaya Renitasari Adrian. Itu sebabnya, batik Kudus kalah pamor ketimbang rokok kretek yang mulai diproduksi pertama kali sekitar tahun 1880-an.

Renitasari tak segan-segan menuntut standar yang tinggi untuk batik Kudus yang berada dalam naungannya. “Waktu tahun pertama Miranti menunjukkan hasil batiknya, saya secara jujur bilang kalau batik yang diproduksi pertama kali itu jelek,” kata dia. Toh, itu ternyata membikin para pebatik semakin bersemangat.

Foto oleh M. Iqbal Ichsan untuk Tempo

Foto oleh M. Iqbal Ichsan untuk Tempo

Kolaborasi dengan Denny pun, kata Renitasari, dirancang sebagai shock therapy bagi para perajin batik Kudus agar bisa membikin batik berkualitas. “Mas Denny bahkan sampai ikut serta untuk memilih motif dan mengeksplorasi motif-motif batik Kudus untuk koleksinya,” uajr dia.

Keterlibatan Denny dalam eksplorasi batik Kudus itu terlihat jelas dalam 80 tampilan yang disuguhkan malam itu. Dibuka dengan tari-tarian, Denny membagi peragaannya menjadi empat bagian. Pada bagian pertama, pakaian kasual yang menyasar anak muda, banyak ditampilkan. Batik cap dengan motif bunga Seruni dan Anggrek Cattleya yang masing-masing terpengaruh Cina dan Belanda mendominasi peragaan.

Siluet yang ditampilkan pun sebagian berupa bomber jacket atau varsity jacket untuk pria, ataupun sweater dengan digital print motif batik ataupun blus kimono dipadu dengan celana tujuh per delapan. “Saya ingin sesuatu yang lebih edgy dan bisa diminati oleh anak muda,” kata Denny saat ditanya soal alasannya memilih siluet bomber jacket.

Pada bagian kedua, motif batik diubah oleh Denny menjadi berbagai bordir halus. Motif yang digunakan antara lain Merak Njraping yang diperbesar. Tidak cuma itu, motif ini juga didampingi dengan motif lain seperti buketan dengan motif Tulip plus isen-isen atau isian pada gambar batik berupa motif beras kecer dalam warna sogan.Bagian ketiga peragaan diisi Denny dengan ‘tabrak lari’ motif. Lagi-lagi aplikasi bordir dipadukan dengan beragam motif batik. Misalkan, motif padma dengan latar beras kecer ditumpuk dengan motif Anggrek Cattleya pada beberapa rancangannya.

Sedangkan, pada bagian keempat, Denny menggabungkan bordir besar Seruni yang diaplikasikan pada gaun malam di atas batik dengan latar isen-isen beras kepyar. Denny juga berupaya untuk merekam pengaruh tiga budaya dalam batik Kudus. Penggunaan heavy beadding pada beberapa jaket miliknya misalkan, mengingatkan kita pada pakaian suku-suku bedouin dari Arab. Ada juga potongan kerah Shanghai yang mengingatkan kita pada pengaruh Cina.

Keseluruhan koleksi malam itu bisa dikatakan sebagai cangkokan yang gemilang. Formula yang digunakan Denny sebenarnya tepat. Memperbesar motif, dan mengeksplorasi isen-isen batik Kudus dalam cangkokan berbagai motif yang segar membuat batik Kudus yang sudah lama tidur bangkit lagi. Apalagi, isen-isen halus batik Kudus yang menjadi salah satu keistimewaan batik ini, berhasil dimunculkan. “Bagi saya, Denny memunculkan tampilan batik yang lebih humble lewat koleksi ini. Buat saya, itu sangat Indonesia,” ujar kritikus mode sekaligus Managing Editor Majalah Dewi, Syahmedi Dean kepada Tempo.

Baju renang ini menunjukkan isen-isen yang rinci. Ini juga menjadi salah satu ciri khas batik kudus yang dieksplorasi oleh Denny. Foto : M Iqbal Ichsan untuk Tempo.

Baju renang ini menunjukkan isen-isen yang rinci. Ini juga menjadi salah satu ciri khas batik kudus yang dieksplorasi oleh Denny. Foto : M Iqbal Ichsan untuk Tempo.

Sayangnya, ada dua kekurangan kecil yang sebenarnya bisa diatasi dengan lebih baik. Penataan gaya beberapa tampilan baju malam itu, terlihat kurang maksimal. Sebut saja deretan gaun malam di bagian terakhir yang diperagakan lengkap dengan cape panjang yang menjuntai. Pada beberapa tampilan, gaun yang berada di balik jaket panjang itu justru kurang menarik minat mereka yang menonton. Padahal, saat mantel itu dibuka, tampilannya bisa jadi lebih ‘menjual’.

Selain itu, tata cahaya dan musik terasa kurang maksimal dalam peragaan ini. Meskipun Yovie Widianto berhasil membikin musik orisinal bernuansa pentatonik Jawa yang konsisten sejak awal hingga akhir, tetap saja ada elemen yang dirasa kurang dalam musiknya. Musik peragaan busana sebenarnya mementingkan hitungan ritme. Saat ritmenya tidak pas, langkah para peragawan dan peragwati menjadi janggal. Tata cahaya pun terlihat bocor disana-sini. Padahal, setiap koleksi Denny itu menarik untuk dilihat dan ditunggu. Singkat kata, ini koleksi siap pakai yang membikin sebagian besar penonton malam itu merasa ‘tresno’, serta membikin mereka ingin ‘duwe’ seluruh baju karya Denny.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s