Laut, Gunung, dan Butoh di Trendology

Presentasi Butoh karya desainer Sean Loh dan Sheila Agatha di IFW 2015. Mereka terinspirasi dari Tari Butoh dari Jepang. Seluruh pengerjaan  koleksi dilakukan di Indonesia.

Presentasi Butoh karya desainer Sean Loh dan Sheila Agatha di IFW 2015. Mereka terinspirasi dari Tari Butoh dari Jepang. Seluruh pengerjaan koleksi dilakukan di Indonesia.

Lautan sama-sama menginspirasi desainer Albert Yanuar lewat lini pakaian Algarry dan label Danjiyo Hiyoji dalam peragaan busana bertajuk Trendology. Albert dan Danjiyo merupakan dua dari lima label yang lolos kurasi dalam Jakarta Fashion and Food Festival 2015 dan firma konsultan  mode Studio One. Trendology disebut menampilkan desainer-desainer yang tegas, modern dan terkini. Selain mereka, tampil pula Sean & Sheila, Todjo by Sapto Djojokartiko, dan Rama Dauhan.

“Saya terinspirasi dari terumbu karang yang bersinar di kedalaman laut,” ujar desainer Algarry, Albert Yanuar kepada Tempo saat ditemui di Hotel Harris Kelapa Gading, usai peragaan busana, Ahad, 24 Mei 2015. Albert dikenal dengan rancangan busananya yang multifungsi. Desainer yang menjadi salah satu peserta program inkubator Indonesia Fashion Forward ini sering membuat bolero yang tiba-tiba bisa diubah menjadi rok, ataupun sebaliknya.

Malam itu, pertunjukan serupa diulang oleh Albert dalam koleksi bertajuk Okeana yang berarti lautan dalam bahasa Latin. “Ini merupakan koleksi fall winter Algarry,” kata dia. Februari lalu, Albert juga baru saja meluncurkan koleksi Imlek yang terinspirasi dari motif porselen Cina. Meskipun pertunjukan mengubah bentuk pakaian di atas pentas tetap membuat decak kagum, sebagian koleksi Algarry malam itu justru tampak tidak konsisten.

Albert mengatakan dia harus menuruti selera pasar. Itu sebabnya dia membuat gaun pendek berwarna pastel dengan detail bordir berbentuk tumbuhan laut yang memanjang dalam warna neon. “Ternyata pasar saya menyukai yang seperti itu,” kata dia. Selain itu, Albert juga bermain dengan motif grafis warna-warni dalam warna dasar hitam sebagai salah satu benang merah koleksinya. “Karena ini second label, kan tidak semuanya dibikin cocok untuk editorial mode,” ujar Albert.

Danjiyo5

Koleksi ‘Salila’ Danjiyo Hiyoji di JFFF 2015. Mereka terinspirasi dari mitologi Bugis. (Credit: Iqbal/Tempo.co)

Danjiyo6

Sedangkan Danjiyo Hiyoji—dengan duet desainer Dana dan Liza—juga bermain dengan inspirasi lautan. Tapi, secara spesifik, koleksi yang diberi judul Salila itu bercerita soal lima gender yang berada dalam kebudayaan Bugis. Salila, sebenarnya juga berarti lautan dalam bahasa Sansekerta. Danjiyo bermain dengan pola dekonstruktif dalam warna-warna putih ataupun biru laut.

Sean & Sheila malam itu masih menampilkan koleksi yang sama dengan peragaan mereka di Indonesia Fashion Week bertajuk Butoh. “Tapi ada beberapa koleksi pakaian yang sebenarnya belum sempat muncul,” kata Sheila Agatha, desainer dari label itu kepada Tempo. Dia merujuk pada jubah besar berwarna hijau keemasan dengan detail bordir ikan koi besar berwarna putih.

TODJO by Sapto Djojokartiko. Ini merupakan lini ready to wear dari Sapto yang diluncurkan Februari lalu.

TODJO by Sapto Djojokartiko. Ini merupakan lini ready to wear dari Sapto yang diluncurkan Februari lalu.

Sapto Djojokartiko lewat label Todjo—yang baru diluncukan bulan Februari lalu—juga memunculkan beberapa koleksi baru untuk melengkapi seri koleksi pertama. Sapto merancang gaun ataupun jumpsuit dengan warna merah menyala dari bahan brokat. Ini menjadi penyeimbang tampilan maxidress berwarna hitam di atas bahan crepe berwarna pastel. Todjo juga menjadi penanda masuknya Sapto ke lini baju siap pakai.

Berbeda dengan desainer lainnya, Rama Dauhan, malam itu muncul dengan inspirasi berupa puncak gunung. Ada tekstur berupa kerut, ataupun potongan pakaian berbentuk A yang menyerupai puncak dalam . Warna putih serta detail berupa kantong pada beberapa bagian pakaiannya menjadi salah satu penanda inspirasi itu. Mantan desainer Danjiyo Hiyoji dan juga label X,S,M,L ini sebenarnya cukup jarang muncul menggelar peragaan busana. “Saya masih harus memulai semuanya lagi dari awal,” ujar dia.

Model memperagakan koleksi TODJO by Sapto Djojokartiko. Ada palet crimson red yang sedikit berbeda dibandingkan peluncuran Todjo Februari lalu. (Credit Iqbal/Tempo)

Model memperagakan koleksi TODJO by Sapto Djojokartiko. Ada palet crimson red yang sedikit berbeda dibandingkan peluncuran Todjo Februari lalu. (Credit Iqbal/Tempo)

Tulisan ini dimuat di Tempo.co, untuk baca tulisan asli, silakan klik disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s