Adibusana, Couture, atau Kucur?

Desainer sekelas Didi Budiardjo saja gak pernah tuh mengaku-ngaku jadi couturier…

Ada istilah yang menggelitik saat saya menghadiri Jakarta Fashion and Food Festival di Kelapa Gading beberapa waktu lalu. Salah satu pengisi acara yang menggelar peragaan busana di sana menuliskan dengan bangga nama labelnya di buku acara sebagai: XXXXX Couture. Tentu saya tak bakal sebut namanya, tapi topik ini sangat penting dibahas. Apalagi, masih banyak yang ngawur soal istilah haute couture. Yang saya temukan di JFFF mungkin hanya satu dari sekian banyak label dan desainer yang mengaku ‘couture’ tapi berkualitas ‘kucur’.

Haute couture sendiri merujuk pada istilah dalam bahasa Prancis. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Inggris kira-kira ‘high dressmaking’ alias membuat pakaian dengan ukuran yang presisi sesuai dengan ukuran pemesan. Pengerjaan couture dilakukan dengan tangan hingga detail terkecilnya. Itu sebabnya membuat couture bisa dibilang sangat menyita waktu.

Itu definisi awal dari couture. Lalu, bagaimana dengan definisi saat ini? Merujuk pada kamus Inggris-inggris Mirriam Webster, haute couture adalah:

:  the houses or designers that create exclusive and often trend-setting fashions for women; also :  the fashions created

yang artinya kira-kira:

: rumah mode atau desainer yang membuat mode (pakaian) eksklusif bagi wanita dan seringkali menjadi pencipta tren

Sudah mengertikah anda? Artinya, label couture itu tidak bisa dipakai sembarangan. Minimal, anda harus menjadi salah satu pencipta tren mode di negara itu. Well, kalau gitu apa anda yang mengenakan istilah couture pada label anda sudah merasa setara dengan Chanel?

Sebaiknya, anda simak lagi penjelasan lanjutannya. Istilah couture di Prancis dipersempit lagi dengan adanya undang-undang khusus. Artinya, istilah haute couture dilindungi oleh hukum. Ada kriteria khusus bagi desainer dan rumah mode untuk disebut sebagai penghasil haute couture sejak 1945. Syarat itu diperbaharui lagi pada tahun 1992. Syarat-syarat ini ditentukan oleh Chambre syndicale de la haute couture di Prancis yang kalau diterjemahkan kira-kira Persatuan Haute Couture. Mereka berfungsi sebagai dewan yang menentukan rumah mode dan desainer mana yang berhak untuk menyandang label’ haute couture. Mereka yang terpilih berhak untuk menggunakan ‘couture’ dalam berbagai material promosinya. Tapi, keanggotaan ini dievaluasi secara berkala, dan bisa saja seseorang yang sudah masuk chambre, lalu keluar lagi dari sana.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, ada syarat-syarat yang gak gampang untuk diakui sebagai pembikin adibusana (ini istilah terjemahan couture dalam Bahasa Indonesia). Syarat-syarat untuk diakui sebagai couturier antara lain:

1. Membuat pakaian untuk klien perorangan dengan proses pengukuran baju minimal satu kali, atau bahkan lebih.

2. Punya atelier atau bengkel kerja di Paris yang mempekerjakan setidaknya 15 pegawai dengan status karyawan tetap.

3. Harus memiliki 20 pekerja teknis dalam satu atelier

4. Setiap tahunnya, harus memepersembahkan dua koleksi sesuai musim (Spring-Summer dan Fall-Winter). Setiap koleksi, setidaknya terdiri atas 15 desain asli yang terdiri dari pakaian sehari-hari dan gaun malam pada Januari dan Juli setiap tahunnya.

Jadi, sudahkah anda punya atelier di Paris? Hehehehe.

Hingga kini, belum ada nama desainer Indonesia yang secara resmi terdaftar sebagai couturier di Paris. Tapi, memang ada desainer Indonesia yang ikut serta dalam Paris Fashion Week (Couture) meskipun off schedule. Dia adalah Didit Hediprasetyo. Selebihnya, belum ada lagi.

Apa konsekuensi jika anda menggunakan istilah couture sebagai nama label? Konsekuensi hukum secara langsung di Indonesia memang gak ada. Tapi, jika suatu saat mereka yang menyematkan istilah ‘couture’ itu pergi untuk trade show di Prancis atau negara lain, akan ada banyak pertanyaan–atau bahkan tuntutan secara legal–yang bisa muncul. Bukan hal yang mustahil juga kalau ada orang yang mengerti hukum dan kemudian iseng mendaftarkan gugatan karena anda mencatut istilah couture secara sembarangan untuk mendapatkan profit. Kemungkinan itu sangat terbuka.

Di Indonesia sendiri, tidak ada badan khusus seperti Prancis yang mengurusi soal mode. Kita hanya punya dua asosiasi yaitu Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) dan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang juga tidak punya kewenangan untuk melakukan sertifikasi soal couture atau kucur.

Lalu bagaimana? Sekedar menyarankan untuk anda yang masih rajin jualan dengan nama ‘couture’: silakan hapus embel-embel couture itu dari nama label anda. Kalau ingin tetap gaya, tapi aman dari konsekuensi hukum, silakan gunakan istilah adibusana. Karena hingga kini tidak ada perangkat hukum yang mengatur soal istilah adibusana ini.

Kalau anda masih ngotot, mari saya beri informasi: desainer Indonesia lulusan Ecole de syndicalle de la couture Paris–alias sekolah couturier di Paris yang terafiliasi langsung dengan lembaga adibusana nasional di sana–semacam Auguste Soesastro dan Yogie Pratama saja gak pernah tuh jualan nama ‘couture’. Masa iya sih, anda yang kualitasnya masih ‘kucur’ berani mengklaim diri? Malulah dengan mereka yang sebenarnya lebih sah menyandang gelar couturier, ketimbang anda yang membohongi klien agar mereka mau mengucurkan uang membeli baju ‘kucur’ karya anda.

Couture itu juga bukan melulu kostum ajaib alias ballgown dengan tempelan batik dan tabur-tabur payet semudah menabur bedak Rodeca. Couture juga bisa jadi pakaian sederhana untuk sehari-hari. Yang membedakan couturier dengan desainer lain adalah tekniknya yang gak sembarangan. Auguste Soesastro misalkan, bisa lho membuat baju tanpa potongan di bagian bahu. Lah, anda yang menggunakan nama ‘couture’ itu sudah bisa belum? Saya yakin anda gak bisa! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s