Neo Sawunggaling

Artikel ini diterbitkan di Koran Tempo Minggu, 26 April 2015

Instalasi Sawunggaling Didi Budiardjo dilihat dari ketinggian.

Instalasi Sawunggaling Didi Budiardjo dilihat dari ketinggian.

Gaun putih polos yang dipasang pada maneken itu berpendar. Ada gambar-gambar yang bergerak, seperti berlarian di permukaannya. Awalnya polos, lalu kemudian muncul gambar yang mirip ayam jago dan perlahan berubah menjadi burung Phoenix. Gambar tadi kembali berubah menjadi ilustrasi kain berwarna jambon dan lalu menjadi coklat. Terakhir, gambar burung tadi, berubah menjadi motif tiga dimensi, seperti perhiasan emas lengkap dengan susunan batu permata. Sekilas, bagian penutup dari presentasi video mapping itu justru mirip kostum ksatria dalam film kartun Jepang Saint Saiya. Ini merupakan bagian dari instalasi Sawunggaling karya desainer Didi Budiardjo yang digelar pertengahan April lalu di Promenade Atrium, Pusat Perbelanjaan Senayan City, Jakarta. Video mapping tadi menjadi interpretasi Didi terhadap motif batik Sawunggaling karya maestro batik KRT Hardjonegoro alias Go Tik Swan. Melalui proyeksi itu pun, pengunjung diajak memahami penciptaan motif Sawunggaling, mulai dari tahap awal batik tersebut masih berupa sketsa, kemudian diisi dan diwarnai, hingga menjadi motif yang utuh. Go, yang mendalami budaya Jawa sejak kecil, secara tidak sengaja terinspirasi dari motif burung pada kain prada Raja Bali Gusti Jelantik. Dia lalu menyatukan dua karakter, yaitu Sawung alias ayam jago dan Galing, yang berarti merak jantan. Batik ini diciptakan atas permintaan Presiden Soekarno, sebagai Batik Republik. “Kalau versi saya sih ini Sawunggaling fantasi,” kata Didi kepada Tempo, Jumat, 10 April 2015. Sawunggaling sebelumnya juga pernah diinterpretasikan oleh Iwan Tirta, murid langsung Go Tik Swan yang belakangan juga dikenal sebagai salah satu maestro batik. Bahkan, Iwan—yang wafat pada 2010 lalu—dikenal luas lewat motif ini. Perbedaan utama Sawunggaling Go Tik Swan dan Iwan terletak pada warna yang dipilih. Jika Go memilih warna ngejreng seperti jambon atau biru, Iwan Tirta justru memilih warna coklat ataupun putih sehingga Sawunggaling miliknya mirip seperti batik klasik Jawa. Kedua kain itu, juga dipamerkan dalam instalasi Sawunggaling Didi Budiardjo, selain kain batik besar karya Didi dengan bagian wajik berwarna hitam di bagian tengahnya. Menurut Didi, motif Sawunggaling sudah terlalu lama didiamkan begitu saja. Kata dia, jarang sekali ada upaya interpretasi terhadap desain-desain batik klasik. “Saya sendiri kadang gemas dengan minimnya upaya interpretasi terhadap kekayaan budaya Indonesia,” ujar dia. Didi menyoroti betapa banyaknya desainer yang membuat desain pakaian dengan bahan dasar batik, tapi tidak berani menafsirkan ulang.

Sawunggaling karya Go Tik Swan. (Credit goes to thejakartapost.com)

Sawunggaling karya Go Tik Swan. (Credit goes to thejakartapost.com)

Didi sendiri mengatakan tidak bakal membuat pakaian dari motif Sawunggaling yang diinterpretasikannya. “Saya justru ingin ini menjadi inspirasi bagi orang lain. Saya harap ada anak-anak muda yang nantinya bisa membuat sesuatu dari apa yang mereka lihat pada instalasi ini,” kata Didi. Instalasi Sawunggaling karya Didi sendiri sebenarnya merupakan bagian ketiga dari perayaan seperempat abad berkarya Didi yang rangkaiannya dimulai akhir tahun lalu. Rangkaian tersebut dimulai dengan peragaan busana bertajuk Curiousity Cabinet, lalu berlanjut dengan pameran Pilgrimage di Museum Tekstil dan ditutup dengan instalasi Sawunggaling. Untuk menggarap itu semua, Didi menggandeng Felix Tjahyadi sebagai penata artistik, serta Agra Satria yang menggarap ilustrasi pada video mapping dalam ruangan gelap berbentuk wajik di tengah pusat perbelanjaan itu. Menurut Agra, ada alasan tertentu soal pengulangan bentuk wajik yang muncul pada kain, serta pada bentuk bangunan instalasi tempat maneken dan video mappping. “Bentuk wajik—dalam kosmologi Jawa—dipercaya menyerap energi buruk,” kata Agra kepada Tempo. Itu sebabnya, ruang pamer baju tempat video mapping ditembakkan sengaja dibentuk seperti itu.

Didi Budiardjo dan kain Sawunggaling karyanya di Pusat Perbelanjaan Senayan City. (credit goes to Tempo.co)

Didi Budiardjo dan kain Sawunggaling karyanya di Pusat Perbelanjaan Senayan City. (credit goes to Tempo.co)

Bentuk keseluruhan instalasi yang mengambil ruang yang cukup luas di tengah koridor mall selama lebih dari sepekan itu juga sebenarnya juga mengikuti motif bunga yang muncul pada motif Sawunggaling. “Tapi bentuk itu cuma bisa dilihat dari atas,” kata Agra. Benar saja, saat dilihat dari atas, keseluruhan instalasi ternyata membentuk motif flora yang serupa dengan motif kain. Bagi mereka yang menyaksikan, interpretasi baru Sawunggaling Didi bisa dilihat dengan berbeda-beda. “Kelihatannya justru seperti ornamen dari zaman barok,” kata penata gaya James Thornandes saat melihat instalasi Didi. Dia merujuk pada bagian akhir presentasi video mapping. Bagi James, bentuk tiga dimensi dari Sawunggaling itu justru terlihat lebih modern. “Dan ternyata batik itu bisa ditafsirkan jadi lebih modern dan edgy,” kata dia. Apa pun tafsirannya, Didi sukses menggelitik persepsi siapa pun yang melihat Sawunggaling miliknya. Meskipun, banyak juga pengunjung mall yang tidak ngeh soal maksud instalasi itu meskipun ada banyak penjelasan disana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s