Menanti Maestro Batik

Artikel ini merupakan naskah asli–sebelum diedit–dari artikel berjudul serupa di Koran Tempo Minggu, 17 April 2015.

Finale Dewaraja Runway Collection by Iwan Tirta Private Collection, akhir April lalu.

Finale Dewaraja Runway Collection by Iwan Tirta Private Collection, akhir April lalu. (Credit goes to Tempo.co)

Selama tiga dekade Neneng Iskandar menyimpan rahasia dari maestro batik Go Tik Swan yang menjadi gurunya. Rahasia itu, baru disampaikan pada saat Neneng akan menyusun buku Batik Indonesia dan Sang Empu: Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro. “Saya tidak pernah mengatakan pada Mas Go kalau saya ini seorang pengagum dan punya koleksi batik karyanya sejak dulu,” kata Neneng kepada Tempo, Selasa, 12 Mei 2015 di Jakarta.

Awal mula kekaguman Neneng pada Go bermula dari koleksi batik milik ibunya sendiri. “Waktu itu saya heran, ini kok ada nama orang Tionghoa di koleksi batik milik ibu saya?,” ujar nenek berusia 69 tahun itu bercerita. Neneng muda yang penasaran pun bertanya ihwal nama yang tertera pada kain-kain batik itu. Ibunya hanya menjawab singkat kalau Go memang merupakan salah satu maestro batik Indonesia. Dia lahir pada 11 Mei 1931 dan bakal berusia 84 tahun awal pekan ini jika masih hidup. Sayangnya, Go yang diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Hardjonagoro itu tutup usia pada 5 November 2008.

Neneng, yang aktif di perhimpunan Wastraprema ini, harus membuka rahasianya saat membujuk Go untuk membikin buku. “Waktu itu Mas Go bilang: ‘Saya kan gak punya batik-batik saya dari tahun 1950-an, gimana mau bikin buku?’,” ujar Neneng menirukan perkataan Go. Saat itu, Neneng lalu menenangkan Go dan mengatakan kalau dia punya batik-batik Go dari era itu, karena ibunya juga merupakan kolektor batik. Diberitahu hal itu, Go terkejut dan keheranan. “Jadi, hampir semua koleksi batik yang didokumentasikan di buku itu merupakan koleksi saya,” kata Neneng.

Selain mengenal Go, Neneng sebenarnya juga mengenal Iwan Tirta. Neneng dan Iwan sama-sama menimba ilmu dari Go Tik Swan. Menurut dia, ada dua kesamaan dari sosok Go dan Iwan. “Keduanya sangat njawani meskipun bukan orang Jawa asli,” ujar Neneng. Dia menyebut keduanya, mampu menggali budaya Jawa melalui batik hingga ke akarnya.

Go memang selalu meminta murid-muridnya, termasuk Neneng untuk mempelajari dengan serius budaya Jawa. “Mas Go selalu bilang, kalau mau mengerti batik, kamu harus bisa balajar tari Jawa, karawitan hingga belajar maes manten,” kata Neneng, yang terlibat sebagai salah satu perintis Museum Tekstil Jakarta ini. Awalnya, dia tidak begitu percaya dan menurut saja. Belakangan, dia menyadari kalau di dalam batik, ada berbagai macam simbol yang diabadikan. Neneng mencontohkan motif ukel pada batik yang sebenarnya juga merujuk pada ukel alias gerakan tangan pada tarian Jawa. “Ternyata, semuanya ada hubungannya,” kata dia.

Senada dengan Neneng, Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection Era Soekamto mengatakan kalau batik, sesungguhnya merupakan media komunikasi visual. “Ada bahasa dan simbol-simbol tertentu yang harus dipahami dalam batik,” kata Era. Menurut dia, simbol-simbol itu punya makna tersendiri yang belum tentu bisa dipahami oleh banyak orang.

Itu sebabnya Era punya tafsiran tersendiri atas batik-batik karya Iwan Tirta dalam koleksi bertajuk Dewaraja yang diluncurkan akhir April lalu, atau lebih dari sepekan setelah hari lahir Iwan Tirta pada 18 April. Untuk menyusun Dewaraja, dia perlu menyusuri sejarah untuk mengetahui makna dari berbagai motif batik yang didokumentasikan oleh Iwan. Koleksi itu pun kemudian muncul berdasarkan tafsiran Era yang didasari oleh sejarah. Risetnya sendiri dilakukan selama dua tahun. “Rambutku sampai acak-acakan waktu menggodok konsep ini,” kata Era. Rupanya dia sempat bingung memahami simbol-simbol yang ada di dalam batik-batik itu. (Untuk membaca artikel soal Dewaraja, silakan klik disini dan disini)

Dia menyusuri motif padma yang menyerupai mandala sebagai bagian dari dualisme Samsara-Nirvana yang bermakna penderitaan dan kebahagiaan, lalu bergeser ke motif-motif simetris dari Iwan yang merujuk pada kitab Hindu Sivaratri Kalpa yang berarti menemukan cermin di dalam diri, dan berakhir pada Antahkarana atau yang disebut cahaya di atas cahaya. Semuanya, kata Era, berakar pada filosofi yang berkembang pada era Majapahit. “Itu menunjukkan kalau nenek moyang kita sudah punya pemahaman yang luar biasa mendalam soal spiritual yang sering disalahartikan sebagai mistisme,” kata Era. Menurut dia, pemahaman itu muncul dalam berbagai macam motif batik yang digali kembali oleh Iwan Tirta sebagai bagian dari 10 ribu motif yang pernah dibikinnya.

Era tidak heran jika Go Tik Swan maupun Iwan Tirta sama-sama menghayati dengan dalam kebudayaan Jawa sebelum menghasilkan batik. Meskipun, dia menyebut Go Tik Swan dan Iwan Tirta punya kedalaman yang berbeda dalam memandang batik. Perbedaan itu juga tampak jelas dalam motif Sawunggaling yang dihasilkan oleh Go Tik Swan atas permintaan Soekarno.

Motif Sawunggaling—yang belakangan disebut sebagai Batik Republik atau Batik Indonesia—merupakan gabungan dari ayam jago alias sawung dan galing alias burung merak. Pada era 1950-an, Go merancang batik itu usai melihat motif pada kain Raja Buleleng. Motif itu tidak hanya diberi warna coklat seperti lazimnya batik Jawa asal Keraton Solo dan Yogyakarta. Go, justru mewarnainya dengan warna-warna cerah yang sebenarnya lazim ditemui pada batik pesisiran. “Hanya Mas Go yang bisa membuat warna-warna seperti itu,” kata Neneng.

Sawunggaling karya Go Tik Swan. (Credit goes to thejakartapost.com)

Sawunggaling karya Go Tik Swan. (Credit goes to thejakartapost.com)

Menurut Neneng, Go sangat setia pada Soekarno. Dia pun sangat kecewa saat Soekarno dituduh terlibat dalam peristiwa G30S PKI pada 1965 dan wafat pada 1970. “Bagi Mas Go, Soekarno diperlakukan tidak adil oleh pemerintah saat itu. Padahal Soekarno itu kan bagaimanapun bapak bangsa,” kata Neneng menirukan pendapat Go. Itu sebabnya, pada periode 1965 hingga 1972, Go sempat mengasingkan diri karena kecewa dengan perlakukan pemerintah pada proklamator.

Buntutnya, Go juga menolak secara halus permintaan Ibu Negara Tien Soeharto untuk membuat batik. “Mas Go meminta Bu Tien untuk menghubungi Iwan Tirta saja,” kata Neneng. Belakangan, Iwan Tirta memang sering diminta untuk membuat batik di era Orde Baru. Hal itu dibenarkan oleh salah satu mantan asisten Iwan Pauly Pattipelohy.

Menurut dia, Tien Soeharto memang menjadi salah satu pelanggan utama Iwan Tirta. “Bu Tien sangat menghargai batik, dan dia seringkali membayar semua batik secara tunai,” kata Pauly yang mendampingi Iwan selama tiga dekade sejak 1970-an. Iwan Tirta, kata Pauly, juga orang yang sangat detail dalam merancang batik.

“Biasanya dia menggunakan prada dari emas asli dan jika perlu mendatangkan bahan taffeta dari Swiss,” ujar Pauly yang kini juga merancang motif batik lewat label Pattipelohy Batik. Iwan—yang seringkali bepergian ke luar negeri—memang tidak pernah membagi asal muasal inspirasi dalam rancangan batiknya. Biasanya, Iwan bakal mengarahkan para pembuat gambar untuk menyusun motif tertentu. “Mas Iwan hanya sering bilang, kalau ingin membuat motif batik, ya harus banyak-banyak belajar dan melihat,” kata dia.

Iwan juga dikenal sangat cerewet soal bagian isen-isen—isian ataupun latar berupa titik atau berbagai garis—dalam motif batiknya. “Dia selalu memberikan isen yang penuh,” kata Pauly. Ini yang membuat pengerjaan batik Iwan Tirta di masa itu bisa lebih lama. “Apalagi kalau Mas Iwan sudah suka terhadap motif tertentu, atau sedang diminta untuk membikin lukisan batik oleh kawan-kawannya itu bisa memakan waktu yang sangat lama,” ujar Pauly.

Kalau sudah begitu, Iwan terkadang lupa untuk memproduksi kain ataupun produk lain untuk mengisi gerai yang dimilikinya. Go Tik Swan, kata Neneng, juga punya kebiasaan yang sama. “Mas Go paling tidak suka dipaksa untuk membikin batik dengan terburu-buru,” ujar dia. Bagi Go, batik merupakan karya seni yang dikerjakan sepenuh jiwa dan raga. Itu sebabnya Neneng menyebut batik tulis tidak bisa dikerjakan dengan canting listrik atau aplikasi komputer. “Bagaimana mau mengolah roso kalau seperti itu caranya?” kata dia.

Neneng mengatakan ada banyak hal yang berubah dalam urusan produksi batik kini. Peralihan bahan bakar dari arang, minyak tanah dan kemudian ke gas, membuat titik didih malam—lilin pelapis yang digunakan untuk mencanting—menjadi berbeda. “Saya sering menemukan keluhan dari perajin kalau menggunakan bahan bakar gas, malam menjadi lebih cepat hangus ketimbang minyak tanah,” kata dia.

Urusan lain yang disebutnya membuat kualitas batik saat ini sulit menyamai batik masa lampau antara lain isen-isen yang tidak lagi sehalus dulu. “Ini karena produksi canting saat ini sudah sulit sekali. Untuk menemukan canting yang bagus kini sudah jarang, ukurannya pun belum tentu semuanya ada,” kata Neneng. Dia merujuk pada ukuran canting dengan titik yang sangat kecil untuk membuat isen-isen cucuk ataupun garis tipis yang kini sudah jarang diproduksi.

Sementara itu, kurator Museum Tekstil Benny Gratha juga memperhatikan kecenderungan serupa pada produksi batik masa kini. “Saat ini, isen-isen dianggap tidak sepenting dulu,” kata penyusun buku Panduan Mudah Belajar Membatik ini. Menurut Benny, sulit untuk menemukan pebatik yang konsisten dengan isen-isen yang dikerjakan dengan teliti.

Masalahnya, pebatik masa kini harus berlomba dengan kebutuhan ekonomi. “Sehingga proses produksinya harus bisa cepat. Untuk mengerjakan batik dengan isen yang halus kan bisa butuh waktu yang sangat lama,” kata Benny. Belum lagi persaingan batik tulis dengan batik cetak juga semakin sengit. Harga yang ditawarkan pun bisa terpaut jauh meskipun kualitasnya juga sangat berbeda.

Soal lain yang muncul belakangan dalam penciptaan motif-motif batik baru belakangan ini adalah, desain batik yang menurut Benny asal-asalan. Jika Go Tik Swan dulu menciptakan motif Sawunggaling sebagai motif batik Indonesia yang menyatukan berbagai gaya batik. Belakangan ini, yang muncul justru motif-motif batik dengan identitas kedaerahan.

“Kadang hasilnya malah aneh dan terkesan maksa,” kata Benny. Menurut dia, terkadang batik-batik daerah itu—yang dihasilkan melalui sayembara—cuma digadang-gadang sebagai kebanggaan daerah saja. “Tahu-tahu begitu kita cek, produksi batiknya tetap di daerah tertentu yang secara tradisional memang sentra penghasil batik. Padahal, harapannya dengan adanya kompetisi batik di provinsi-provinsi tersebut, ada pengrajin-pengrajin batik baru yang bisa berkembang di daerah yang bersangkutan,” ujar Benny.

Jika akhirnya motif batik dari Kalimantan Timur misalkan, tetap diproduksi di Pekalongan, “Untuk apa jadinya ada motif khas daerah itu?,” ujar Benny. Kekhawatiran yang sama juga muncul dari Neneng. “Padahal kan, tidak semua daerah wastra unggulannya itu batik. Ada juga kan daerah yang dikenal karena songket ataupun ikat. Harusnya itu yang dikembangkan,” kata dia. Neneng dan Benny mengatakan ada kesalahan strategi dari pemerintah untuk menumbuhkan batik sebagai identitas masing-masing provinsi yang sebenarnya punya keragaman wastra yang berbeda.

Keduanya juga mengatakan belum ada penerus maestro baru batik yang mampu mengelaborasikan batik sebagai satu kesenian dan keterampilan—bukan hanya sekedar tekstil—seperti Go Tik Swan dan Iwan Tirta. “Saat ini kebanyakan lebih banyak pada permainan kreasi saja,” ujar Benny. Dia menilai ada banyak pebatik yang punya bakat luar biasa dan inovatif. Akan tetapi, belum banyak yang melakukan riset-riset baru atau bahkan mampu menghasilkan motif batik baru seperti Sawunggaling Go Tik Swan ataupun mampu mendokumentasikan dan memadukan ribuan motif klasik seperti Iwan Tirta.

Yang belakangan muncul adalah motif-motif batik modern yang sama sekali tidak berakar pada motif klasik. Benny, Neneng, ataupun Era punya pendapat kalau membuat motif baru wajar-wajar saja dilakukan. “Kalau batik modern sih sifatnya bebas,” kata Era. Menurut Neneng, meskipun batik-batik modern itu bebas, sebaiknya mereka harus bisa memahami karakter batik Indonesia yang punya ciri khas khusus soal keberadaan isen-isen. “Isen itulah yang membedakan batik Indonesia dengan negara lain,” ujar Neneng.

Upaya untuk menafsirkan ulang batik juga muncul dari beberapa desainer. Didi Budiardjo misalkan menafsirkan ulang motif Sawunggaling menjadi sebuah karya instalasi di sebuah pusat perbelanjaan bulan lalu. “Bagi saya, motif ini sudah terlalu lama didiamkan,” kata dia. Didi menampilkan juga motif Sawunggaling karya Go Tik Swan dan Iwan Tirta secara berdampingan. Dia juga membuat kain dodotan besar rancangannya sendiri dalam ukuran besar. Selain itu, Didi juga menafsir ulang Sawunggaling dalam bentuk instalasi video mapping yang ditembakkan pada gaun putih karyanya. Di video itu, Didi menjelaskan secara visual motif batik itu dibuat, hingga akhirnya ditafsirkan bak karakter manga. (Untuk membaca review soal instalasi mode karya Didi Budiardjo, anda bisa klik disini)

Didi Budiardjo dan kain Sawunggaling karyanya di Pusat Perbelanjaan Senayan City. (credit goes to Tempo.co)

Didi Budiardjo dan kain Sawunggaling karyanya di Pusat Perbelanjaan Senayan City. (credit goes to Tempo.co)

Sederet nama baru juga muncul menafsirkan batik—dengan gaya modern—di dunia mode. Sebut saja Nonita Respati lewat label Purana Batik, ataupun Citra Subijakto lewat label Sejauh Mata Memandang. Belum lagi label Populo Batik yang sangat modern dan mengincar pasar luar negeri. “Saya sangat gembira melihat perkembangan batik di Indonesia,” kata konservator tekstil asal Amerika Serikat Julia Brennan.

Julia datang ke Indonesia untuk melakukan restorasi terhadap sejumlah koleksi batik Iwan Tirta yang dimiliki oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Koleksi itu berupa kain batik dengan logo besar Amerika Serikat, ataupun motif batik Ronald Reagan yang diberikan sebagai hadiah untuk kunjungan Presiden Reagan ke Indonesia. “Kebetulan, saya juga pernah bertemu Iwan Tirta waktu saya kecil dan tinggal di Indonesia,” kata dia. Dalam benak Julia kecil, Iwan adalah orang yang membuat batik menjadi sesuatu yang sangat fenomenal di tingkat dunia. “Anda bisa bayangkan kalau dia bisa membuat batik dikenal luas secara internasional waktu itu,” ujar Julia.

Dia mengatakan, restorasi terhadap sejumlah karya Iwan seperti membawa memori masa kecilnya saat masih tinggal di Indonesia. Menurut Julia, seharusnya orang Indonesia bangga memiliki batik sebagai salah satu Warisan Dunia Tak Benda versi UNESCO. Bagi Neneng, hingga saat ini belum ada lagi penerus batik semacam Go Tik Swan dan Iwan Tirta di Indonesia. “Tapi saya percaya, suatu saat nanti bakal ada yang bisa meneruskan. Cuma mungkin masih menunggu waktu yang tepat saja untuk muncul,” kata dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s