Kembalinya Sally

Tampilan perdana dari SAYA by Sally Koeswanto (credit goes to FAME47)

Tampilan perdana dari SAYA by Sally Koeswanto (credit goes to FAME47)

Butuh waktu dua setengah jam bagi para undangan peragaan busana Sally Koeswanto untuk melihat koleksi terbaru sang desainer. Tentu ini bukan sembarang peragaan. Ini merupakan perayaan ulang tahun sekaligus show pertama Sally setelah mengundurkan diri dari dunia mode pada tahun 2013 lalu. Sally memilih sendiri daftar tamu yang bakal hadir di Ballroom Hotel Raffles Jakarta—cabang dari Hotel Raffles Singapura yang mahsyur—tempat peragaan busananya digelar. Itu sebabnya, mereka yang hadir merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi Sally. Mulai dari aktor Ari wibowo selaku sahabat Sally, Pemimpin Redaksi majalah mode Harper’s Bazaar Indonesia Ria Lirungan, hingga pendiri majalah Femina Mirta Kartohadiprodjo semuanya hadir memenuhi undangan. Adapula kritikus mode Syahmedi Dean hingga penulis gaya hidup Samuel Mulia. “Aku lega kalau kalian datang,” kata Sally kepada Mirta, yang hadir memenuhi undangan, Ahad, 22 Maret 2015. Mereka yang hadir disuguhi empat set menu—di luar tapas yang disuguhkan paling awal—dan juga champagne hingga anggur merah. Sambil kekenyangan, setengah mabuk, atau mengantuk usai santap malam, mereka disuguhi 23 gaun karya Sally dalam koleksi bertajuk SAYA. Mata sebagian hadirin membelalak kagum saat peragawati Kateryna Talanova yang membuka peragaan keluar dari panggung, dan berjalan menuju runway berupa sela antar tiga meja makan besar yang ditata malam itu. Mengenakan gaun putih dari bahan jacquard dengan motif flora yang timbul, Kate berjalan sangat dekat dengan para hadirin yang menduduki bangku paling depan malam itu.

Sally punya mata yang jeli pada detail (credit goes to Fame47)

Sally punya mata yang jeli pada detail (credit goes to Fame47)

Cukup dekat bagi mereka untuk melihat detail mutiara Jepang atau kristal Svarovski yang ditaburkan di gaun itu. Dalam beberapa gaun lain yang muncul setelahnya—berturut-turut dari warna putih ke emas lalu hitam—mereka juga bisa melihat jalinan kulit yang disusun sedemikian rupa menjadi detail pada bagian pinggang. Hadirin kembali dibikin berdecak kagum saat mereka melihat detail yang mirip kelopak bunga krisan yang disusun sebagai aplikasi pada beberapa gaun. Kejutan yang diselipkan Sally belum selesai sampai di situ. Kadang dia juga sengaja membuat untaian mutiara di bagian belakang gaun, yang membuat baju-bajunya tampak tidak biasa. Pun, baju-bajunya tetap punya siluet yang seksi dan berani ala Sally. Ada celana super pendek warna putih serta emas, ataupun rok yang dibelah hingga setinggi paha. Kemunculan bustier dan korset dengan ukuran yang sangat pas memeluk tubuh para peragawati top malam itu—mulai dari Laura Muljadi hingga Paula Verhoeven—tentu tetap menjadi benang merah peragaan. Lulusan White House School of Design Australia ini masih mengukuhkan diri sebagai salah satu pembuat korset terbaik di negeri ini.

Terinspirasi dari perjalanannya ke Papua?

Terinspirasi dari perjalanannya ke Papua?

IMG_0419

Bagi Sally, palet putih, emas dan hitam punya arti tersendiri. Warna putih disebut sebagai lambang pencapaian dan rasa cinta, emas melambangkan kualitas harga diri, sedangkan hitam melambangkan misteri hidup yang penuh pergumulan. Tapi, warna-warna itu juga bisa ditangkap lain bagi mereka yang menyaksikan peragaan busana Sally. Putih bisa berarti kelahiran, lalu menuju ke warna emas sebagai puncak kehidupan dan ditutup dengan warna hitam yang menandakan akhir hayat. Sebenarnya, kemana saja Sally saat memutuskan untuk berhenti menjadi desainer dengan alasan mengurus keluarga? “Saya sempat berhenti dan tidak mau tahu soal fashion selama setahun,” kata Sally dalam sambutannya sebelum peragaan busana. Untuk mengisi waktu luangnya usai tidak lagi menjadi desainer, Sally terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Dia juga pergi ke Papua untuk melihat pendidikan anak-anak di Nabire. “Di sana, saya melihat anak-anak itu punya mimpi,” kata Sally. Sally pun kembali berpikir soal desain. “Kenapa saya harus menyia-nyiakan bakat yang diberikan oleh Tuhan kepada saya?,” ujar Sally. Pergolakan batin itu yang kemudian kembali merasuki Sally. “Saya merasa tidak jujur pada diri saya.” Ternyata, berhenti dari dunia mode menjadi semacam perenungan untuk Sally sebelum memutuskan untuk kembali berkarya. “Saya seperti lahir kembali,” kata dia. Kembali ke dunia mode 20 tahun setelah memulai karirnya pada 1995, Sally menempati posisi yang tidak tergantikan. Sally punya craftmanship yang tidak dimiliki oleh desainer lain di Indonesia, dan itu sudah membawanya ke Australia Fashion Week dua tahun berturut-turut sebelum hengkang. Hanya ada satu catatan kecil yang perlu diperhatikan oleh Sally: dia harus membuat desainnya punya perbedaan yang kentara dengan desainer lain di luar negeri. Ini penting, karena publik mode lokal kini lebih kejam. Mereka bisa sembarangan menuding seorang desainer menjiplak karya orang lain tanpa pengetahuan yang cukup. Terlepas dari perdebatan soal apakah karya Sally bisa disebut haute couture atau tidak—ini karena ketiadaan lembaga sertifikasi couture resmi di Indonesia seperti di Prancis—semua yang hadir malam itu tahu, Sally adalah Sally.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s