Mode Indonesia Salah Arah?

Pernahkah anda merenungkan judul tersebut? Apa betul kita sudah punya entitas yang disebut sebagai ‘industri mode’? Atau sebenarnya, apa yang disebut sebagai industri itu pun sebenarnya belum pernah ada?

Coba kita lihat dulu arti kata industri di KBBI tautan berikut ini. Menurut KBBI, industri berarti:

kegiatan memproses atau mengolah barang dng menggunakan sarana dan peralatan, msl mesin;

Laman itu juga memuat berbagai lema soal industri, alias macam-macam istilah industri seperti industri berat, dasar, hilir, hulu, jasa, jasa pangan, konstruksi, manufaktur, otomotif, pariwisata (ini salah satu sektor ekonomi kreatif), pelopor, perdesaan, perintis, ringan, dan, wisata.

Hanya itu. Tak ada ‘industri mode’ di KBBI. Padahal, sebuah kamus juga menandakan perkembangan yang terjadi pada suatu bangsa. Jika anda mengecek kamus bahasa Inggris Merriam Webster, anda bisa menemukan dengan mudah istilah ‘fashion industry‘ pada definisi ‘fashion’ sebagai kata benda. Fashion diakui sebagai industri yang berkembang pesat dan menguntungkan pada abad ke-19 hingga 20 di Dunia Barat.

Tex Saverio on Jakarta Fashion Week 2014 (Copyright Tempo.co)

Tex Saverio on Jakarta Fashion Week 2014 (Copyright Tempo.co)

Istilah ‘mode’ sebagai kata terjemahan untuk ‘fashion’–atau bahkan lebih hancur lebur lagi fesyen–lebih populer disebutkan oleh media massa di Indonesia. Padahal–silakan anda cek KBBI–kata yang terdaftar di kamus itu, adalah mode, sila cek disini. Kalau masih ngotot menggunakan ‘fashion’ dan ‘fesyen’–istilah asal njeplak serapan langsung tanpa tedeng aling-aling dari Bahasa Inggris–lebih baik anda menerjemahkan majalah-majalah tebal anda seluruhnya ke dalam Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia. Pada bagian ini, sadarkah anda betapa tidak konsistennya kita, paling tidak untuk urusan bahasa?

Tentu, ini bukan salah mereka yang menyusun lema dalam KBBI. Semua entry yang masuk dalam kamus tadi merupakan industri yang besar, dan dianggap berpengaruh. Sebut saja pariwisata. Artinya, industri tadi, selain punya sumbangan besar terhadap APBN, juga dipandang sebagai sesuatu yang strategis. ‘Fashion’ seperti yang sering anda gunakan sambil melafalkan dengan fasih: ‘fesyen’–sampai botak pun tidak bakal anda temukan di KBBI–belum dianggap signifikan angka riilnya (Jika anda jeli membaca statistik ekonomi kreatif yang disajikan pemerintah terdahulu dimana-mana, sebagian besar angka dalam sektor ekonomi kreatif ‘mode’ atau sesuai dengan data Kemenparekraf yang juga menuliskan ‘fesyen’ di sana berasal dari sumbangan industri manufaktur garmen dan alas kaki)

Kembali ke soal industri. Pada era 1970-an, industri manufaktur Indonesia memang sedang berkembang, termasuk di dalamnya industri alas kaki dan garmen. Manufaktur, pada masa itu bahkan menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar hingga kini. Nilai industri tekstil Indonesia, menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencapai US$ 15 milyar. Tentu, sebagian besar merupakan ekspor alas sepatu ataupun garmen.

Apa yang kita gaungkan sebagai ‘industri mode’ atau ‘industri fashion’ atau bahkan ‘fesyen Indonesia’–merujuk pada istilah yang sering ditulis dan digunakan beramai-ramai oleh media nasional daring hingga majalah mode dan gaya hidup lokal–sebenarnya pun masih ‘setengah matang’. Dia ada tapi tidak ada.

Kita punya banyak desainer ataupun label pakaian lokal berbakat dan inovatif, tapi kebanyakan dari mereka mengolah bahan impor. Pun, manufaktur lokal tidak mau ambil pusing dengan kapasitas industri garmen lokal, dengan memilih jalan pintas mengekspor. Industri garmen pun melakukan hal yang sama. Rata-rata bahan baku yang dipakai pun impor. Sampai disini, sudah sadar betapa bodohnya kita?

Biar saya perjelas lagi. Singkatnya begini: Kita terlalu bodoh–atau bahkan terlalu kaya–sehingga lebih memilih untuk menjahit baju dengan bahan impor dari Cina, ketimbang mengolah kapas sendiri menjadi benang kemudian kain. Sedangkan, kapas yang kita produksi diekspor dengan harga murah, tanpa nilai tambah. Dengan demikian, harga pakaian karya Biyan Wanaatmadja atau Tex Saverio harganya bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah dibandingkan sepotong baju di H&M.

Anda tentu bisa bandingkan. Berapa potong baju Zara, Uniqlo dan H&M yang ada di lemari seorang gadis pekerja kantoran berusia 22 tahun dengan gaji Rp 3,5 juta per bulan dibandingkan label lokal seperti Monstore atau CottonInk? Banyak dari mereka yang bahkan cuma bisa bermimpi untuk punya sepotong gaun karya Biyan atau sekedar memesan kebaya rancangan Vera Kebaya sepanjang hidupnya.

Kita semua tahu, mode di Indonesia itu cuma milik 1 persen masyarakat. Tentu, ini bukan melulu salah pemerintah. Ini juga salah anda, salah saya, dan salah kita semua yang berurusan dengan mode-modean. Salah kita yang tidak bisa mengabarkan ke Euis di Sukabumi kalau ‘Ada lho baju keren ala Korea-koreaan buatan label Monday To Sunday asal Indonesia’ ketimbang dia membeli baju impor asal Cina di Bogor dengan harga lebih miring.

Salah kita juga karena Pak Ahmad di Batang lebih memilih untuk menjual ladang kapasnya ketimbang membuat pabrik benang. Salah kita juga saat Bu Rodiah di Palembang memilih menutup bengkel songketnya karena kita lebih memilih songket impor dari Thailand karena lebih murah.

Salah kita juga karena wartawan mode Indonesia selalu mengulang pertanyaan: “Inspirasinya apa?” saat bertanya pada desainer. Salah kita juga karena hanya bisa berbicara di belakang tanpa mengkritik, saat seorang desainer punya koleksi yang buruk, semata-mata karena takut desainernya ngambek dan tidak mau meminjamkan baju.

Salah kita juga karena membiarkan dua asosiasi besar desainer negeri ini tidak akur-akur sekian tahun. Salah kita juga membiarkan perang dingin antara grup-grup majalah mode lokal dan impor menjadi bara dalam sekam. Salah kita juga yang tidak pernah mengusulkan untuk membuat badan mode yang menjembatani semua pemangku kepentingan mode di Indonesia. Ya, salah kita juga kalau akhirnya ada desainer yang dituding menjiplak karya desainer luar negeri.

Kita semua terlalu permisif, terlalu asyik mencari untung demi kepentingan masing-masing pihak tanpa berpikir jangka panjang untuk sebuah ‘industri’. Mungkin beberapa dari kita terlalu asyik karena dipinjami atau dibuatkan baju oleh beberapa desainer sehingga lupa, lengah dan terlena. Jadi, siap-siaplah gigit jari kalau kita semua tidak mau duduk bersama untuk membenahi ‘mode Indonesia’ yang–menurut saya–belum jadi industri. Siap-siap cuma jadi penonton saat masyarakat Indonesia lebih memilih karya desainer Thailand, karena harganya bisa jadi lebih murah, semata-mata karena industrinya sudah jadi dari hulu ke hilir.

Monday To Sunday on Galleries Lafayette, Jakarta (Courtesy of Tempo.co)

Monday To Sunday on Galleries Lafayette, Jakarta (Courtesy of Tempo.co)

Mari berhenti mengatakan ‘Ah sudahlah, udah biasa’ kalau melihat ada karya desainer yang dicurigai plagiat. Meskipun sulit untuk tidak mengingkari bahwa ‘Tidak ada lagi yang benar-benar orisinal di masa kini,’ marilah kita tentukan seperti apa batasannya. Kalau kita masih cakar-cakaran, jambak-jambakan, jotos-jotosan, tuding-tudingan ‘or bitching each other’ tanpa menuai solusi, impian jadi kota¬† mode atau pusat mode tahun 2025 tampaknya cuma ‘isapan jempol’.

Mari kita mulai sama-sama untuk menggunakan istilah ‘mode’ daripada ‘fashion’ atau ‘fesyen’ saat menulis artikel berbahasa Indonesia, karena memang itu kata-kata yang masuk dalam kosakata resmi Bahasa Indonesia. Pun, mengurangi–syukur-syukur menghapuskan–penggunaan kata-kata jadi-jadian terjemahan dari Bahasa Inggris–yang saya temui di sebagian besar majalah mode berbahasa Indonesia–seperti: ‘elegansi’, ‘radiansi‘, dan ‘vakansi’ bisa dilakukan. Bukankah mengindonesiakan mentah-mentah ‘fashion’ jadi ‘fesyen’, ‘elegance’ jadi ‘elegansi’, ‘radiance’ jadi ‘radiansi’, ‘vacation’ jadi ‘vakansi’ sebenarnya simbol otak malas dan juga plagiasi yang kita lakukan secara tidak sadar?

Kita punya ‘mode’–kalau tidak salah, ini sama dengan bahasa Prancis–untuk ‘fashion’, ‘keanggunan’ untuk ‘elegansi’, ‘berkilau‘ atau ‘bercahaya‘ untuk ‘radiansi’, ‘liburan‘ untuk ‘vacation’. Majalah atau media anda tidak bakal terlihat lebih keren saat menggunakan kata-kata: ‘elegansi’, ‘radiansi’ dan ‘vakansi’. Sebaliknya, justru semakin terlihat dungu dan membodohi pembacanya.

Percayalah, bangga dengan penggunaan Bahasa Indonesia–termasuk dalam menulis–juga termasuk awal dari pembangunan ‘mode Indonesia’. Menggunakan Bahasa Indonesia yang benar di majalah mode, atau liputan mode di media nasional, mungkin saja bisa menjadi salah satu jalan mengembalikan arah mode Indonesia ke arah yang benar. Setidaknya, ini memupuk lagi rasa percaya kita kepada mode Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s